<p><strong>DALUNG (04/03/2026)</strong> - Kegiatan Penilaian Ogoh-ogoh Zona 5 oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung di Desa Dalung yang bertempat di masing-masing banjar se-Desa Dalung pada Kamis - Jumat (19 s/d 20 Februari 2026). Dalam kegiatan ini turut hadir 3 orang juri dan 1 Pendamping yang ditugaskan langsung oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, yakni I Wayan Wartawan., I Made Suwanta, I Komang Agus Wiweka, dan Pendamping I Putu Indra Kusuma Wijaya, S.H., Ketua Sabha Yowana Desa Adat Dalung Gede Arya Putra Pratama, S.IP., Ketua Yowana Prasada Amerta Desa Adat Padang Luwih I Gusti Ngurah Dwipayana, S.E., M.M dan seluruh Sekaa Teruna Teruni yang menyambut kedatangan dewan juri di banjar masing-masing. </p> <p> </p> <p>Adapun tujuan dari kegiatan penilaian ogoh-ogoh ini adalah untuk menilai, memberi masukan, dan mengapresiasi sekaa teruna dalam meningkatkan kreativitas generasi muda untuk berkarya seni sekaligus mendukung pelaksanaan program Bupati Badung dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal.  Melalui penilaian ini, diharapkan setiap sekaa truna termotivasi untuk menciptakan ogoh-ogoh yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga sarat makna dan nilai-nilai budaya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat rasa cinta terhadap warisan budaya Bali, menciptakan semangat kompetisi yang sehat, dan mendorong munculnya inovasi baru dalam setiap karya yang dihasilkan.</p> <p> </p> <p>Bhuta Ingkel Manuk merupakan representasi Bhuta Kala sebagai simbol ketidakseimbangan batin manusia yang timbul akibat pelanggaran terhadap tatanan kosmis. Dalam ajaran Hindu Bali, Bhuta tidak dimaknai semata sebagai kekuatan jahat, melainkan sebagai energi alam yang muncul ketika harmoni antara manusia, alam, dan dharma tidak terjaga. Bhuta Ingkel Manuk menggambarkan sifat-sifat negatif manusia yang bergerak bebas tanpa kendali moral dan spiritual, seperti keserakahan, kemarahan, dan kesombongan.</p> <p> </p> <p>Salah satu Anggota ST. Yowana Eka Dharma, Aditya menyampaikan bahwa ogoh-ogoh yang dibuat secara filosofi, Ingkel dimaknai sebagai kondisi pelanggaran pantangan , atau sikap melampaui batas yang dilakukan manusia dalam pikiran dan tindakan. Ketika Ingkel terjadi keseimbangan hidup terganggu dan melahirkan kekuatan destruktif yang diwujudkan dalam sosok Bhuta Kala. Unsur Manuk (burung), yang sejatinya melambangkan kebebasan dan kesadaran jiwa, secara praktis, pada hari atau wuku Ingkel Manuk, dihindari untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan mengganggu, menyakiti, atau memanfaatkan burung/unggas secara berlebihan, seperti berburu, menyembelih, atau menjual hewan tersebut. <em><strong>“Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuannya adalah untuk menghormati siklus alam dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya, yang merupakan bagian dari penerapan filosofi Tri Hita,” </strong></em>ungkapnya.</p> <p> </p> <p><strong>(KIMDLG-008).</strong></p>
Bhuta Ingkel Manuk Gambaran Ketidakseimbangan Batin Manusia Hadir Dalam Penilaian Kabupaten Badung
04 Mar 2026